percobaan flas

cobaflas

6 Hak dan Kewajiban Muslim atas Muslim Lainnya

Enam Hak dan Kewajiban Muslim atas Muslim Lainnya ini berdasarkan hadits Shahih Muslim. Rasulullah Saw bersabda: ”

“Hak seorang Muslim atas Muslim lainnya ada enam: (1) Jika engkau bertemu dengannya, maka ucapkan salam, dan (2) jika dia mengundangmu maka datangilah, (3) jika dia minta nasihat kepadamu berilah nasihat, (4) jika dia bersin dan mengucapkan hamdalah maka balaslah (dengan doa: Yarhamukallah), (5) jika dia sakit maka kunjungilah, dan (6) jika dia meninggal maka antarkanlah (jenazahnya ke kuburan).” (HR. Muslim).

1. Mengucapkan salam.
Mengucapkan salam (Assalamu’alaikum = semoga Anda berada dalam keselamatan ) adalah sunnah yang sangat dianjurkan karena dia merupakan penyebab tumbuhnya rasa cinta dan dekat di kalangan kaum muslimin sebagaimana dapat disaksikan dan sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah Saw:

“Demi Allah tidak akan masuk surga hingga kalian beriman dan tidak beriman hingga kalian saling mencintai. Maukah kuberitahukan sesuatu yang jika kalian lakukan akan menumbuhkan rasa cinta di antara kalian?, Sebarkan salam di antara kalian” (HR. Muslim).

Rasulullah Saw selalu memulai salam kepada siapa saja yang beliau temui dan bahkan dia memberi salam kepada anak-anak jika menemui mereka.
Continue reading

Rangsangan Kepribadian Yang Menabjubkan Di Usia Dini Untuk Menciptakan Pemimpin Yang Hebat

Pada masa emas ini yaitu usia  1 sampai 4 tahun, anak mengalami masa yang sangat menentukan bagi mereka di masa depannya, disini orang tua sangat berpengaruh penting dalam pendidikan anak karena anak mulai bersosialisasi di keluarga yaitu dirumah. Rumah merupakan tempat untuk mereka belajar meniru orang disekitarnya karena ini termasuk juga pembentukan kepribadian. Oleh karena itu orang tua di anjurkan untuk selalu mendampingi anaknya pada fase ini, untuk mengajarkan mereka kebaikan dan tingkah laku yang baik.

Berikut merupakan kata mutiara dari Dorothy Law Nolte (1945):

“Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki. Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar berkelahi. Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, ia belajar rendah diri. Jika anak dibesarkan dengan hinaan, ia belajar menyesali diri. Jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia belajar menahan diri. Jika anak dibesarkan dengan dorongan, ia belajar percaya diri. Jika anak dibesarkan dengan pujian, ia belajar menghargai. Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan.”

Orang tua pada masa ini di harapkan dapat membimbing anaknya secara maksimal dan mengesampingkan pekerjaan di luar rumah, apa lagi untuk ibu yang berkewajiban untuk mendidik anaknya dan membimbing mereka untuk menjadi anak yang sholeh dan sholehah. Di era sekarang ini seorang ibu kebanyakan mementingkan urusan pribadi nya dari pada keoentingan keluarga dan anaknya, malah-malah anaknya di titipkan kepada babysitter. Anak cenderung dekat pada pengasuhnya dari pada ibunya. Pada kenyataannya pengasuh kurang maksimal dalam mendidik anak majikannya. Ironis sekali ketika anak tersebut berkepribadian yang menyimpang di masa remajanya.

Nasehat untuk para orang tua, didiklah anak-anak anda dengan baik dan benar dengan setulus hati, supaya mereka kelah menjadi anak yang berkepribadian baik dan menjadi pemimpin bangsa. Banggalah menjadi orang tua yang bisa mengarahkan anak-anak kita ke pintu kesuksesabn dengan didikan uyang menabjubkan. Selamat menjadi orang tua yang hebat… ^_^

oleh:Nur Hidayah Hanifah

ORNAMEN

Ornamen merupakan salah satu  seni hias yang paling dekat dengan kriya apalagi jika dikaitkan dengan berbagai hasil produknya, oleh karena itu untuk membuat dan mengembangkan atau merintis suatu keahlian pada bidang kriya peranan ornamen menjadi sangat penting. Disamping itu dalam hal hias-menghias, merupakan salah satu tradisi di Indonesia yang tidak kalah pentingnya dan tidak dapat dipisahkan dengan cabang-cabang seni rupa lainnya. Peranan ornamen sangat besar, hal ini dapat dilihat dalam penerapannya pada berbagai hal meliputi: bidang arsitektur, alat-alat upacara, alat angkutan, benda souvenir, perabot rumah tangga, pakaian dan sebagainya, untuk memenuhi berbagai aspek kehidupan baik jasmaniah maupun rokhaniah.ornamen

Untuk mempelajari dan menghayati bentuk serta arti seni ornamen, terlebih sampai pada sejarah, makna simbolis, gaya, jenis, cara pengungkapan, fungsi atau penerapannya pada suatu benda atau bangunan dan lain-lain, diperlukan suatu pengetahuan serta kemahiran (skill) tertentu dan waktu yang panjang, mengingat seni ornamen mempunyai berbagai aspek seperti: jenis motif, corak, perwatakan, nilai, teknik penggambaran, dan penerapan yang berbeda-beda. Namun demikian tidak tertutup kemungkinan untuk mempelajari, mengerti, menghayati, dan menciptakannya secara baik dengan bertahap, bila didukung oleh kemauan dan rasa ingin tahu yang kuat. Continue reading

Semua Berawal dari Rumah

Tanggal 2 Mei, kemarin, dikenal sebagai Hari Pendidikan Nasional. Kira-kira apa yang sudah dihasilkan dari pendidikan di negeri ini? Apakah sebagian besar ilmu yang diajarkan di sekolah berguna dalam kehidupan? Orang-orang hebat yang ada di Indonesia apakah merupakan hasil pendidikan formal yang dirancang pemerintah?

Menurut saya, pelaku pendidikan pun masih banyak yang tidak mengerti proses pendidikan yang terbaik. Masih banyak guru yang memberikan PR begitu banyak kepada anak didiknya yang masih SD. Akhirnya, banyak anak-anak yang kehilangan masa kecilnya karena sibuk mengerjakan tugas-tugas sekolah.

Hal ini diperparah pemahaman banyak orang tua bahwa anak yang baik adalah anak yang sibuk mengerjakan PR. Sementara anak-anak yang banyak bermain di luar rumah diaggap anak nakal dan bandel. Bahkan banyak orang tua yang tega-teganya “memaksa” anaknya untuk ikut les ini dan itu padahal PR-nya sudah tumplek-blek. Benar-benar orang tua yang sadis.

Pendidikan seharusnya adalah proses yang menyenangkan dan tidak menjadi beban bagi sang anak. Oleh karena itulah bapak ibu guru tidak terlalu banyak memberikan PR tapi dapat menciptakan suasana pemvelajaran yg menyenangkan. Tentu ada PR sekali-kali boleh, tetapi kalau setiap hari dan banyak, itu menyiksa anak. Biarkan saat di rumah anak bersosialisasi dan bermain atau mengikuti kegiatan yang menyenangkan, bukan stres mengerjakan PR.

Apakah nilai tidak penting? Tentu penting, tetapi jauh lebih penting adalah menyiapkan masa depan anak untuk siap mengahadapi kehidupan yang sesunguhnya. Sayangnya, banyak persoalan kehidupan yang penyelesaiannya tak ada di dalam buku.

Selain itu, perlu dipahami bahwa pendidikan terbaik itu berawal dari rumah. Saat di sekolah, biarkan anak memperoleh pendidikan akademik tetapi setibanya di rumah arahkan ia memperoleh pendidikan kehidupan langsung dari orang tuanya. Bukan lagi sibuk mengerjakan tugas-tugas akademik.

Kecakapan memberi nasehat, konsistensi memberi teladan, dan kesediaan untuk selalu mendengar adalah tiga keterampilan kunci yang harus dimiliki oleh orang tua. Rumah bukan hanya tempat menginap dan berteduh. Rumah adalah tempat pendidikan terbaik bagi anak-anak kita. Rumah adalah tempat curhat ternyaman bagi anak-anak kita. Rumah adalah sumber inspirasi bermutu khususnya bagi anak-anak yang sedang mencari jati diri.

Saat anak menghadapai berbagai persoalan, rumah adalah tempat menemukan solusinya. Saat anak-anak galau, rumah adalah tempat untuk mengusir kegalauan itu. Saat anak-anak bersedih, rumah adalah tempat menumpahkan air mata sebanyak-banyaknya. Saat ia berprestasi, rumah adalah tempat yang paling prestisius untuk merayakannya.

Rumah bukanlah hotel atau restoran, yang hanya menjadi tempat menginap dan makan. Rumah adalah awal dari segala kebaikan dan keburukan. Segeralah fungsikan peran rumah Anda…

Jangan Terlalu Lama Menginap

Silaturahmi itu memanjangkan umur dan memurahkan rezeki. Anak-anak saya sangat memahami itu karena setiap bermain ke rumah saudara pasti dapat “salam tempel”. Selain rajin berkunjung ke rumah saudara, sering-seringlah mengundang saudara datang ke rumah Anda. Bila perlu sediakan kamar khusus bagi saudara yang menginap.

Namun ada tata krama menginap yang tidak boleh dilanggar. Misalnya, bila Anda laki-laki janganlah menginap di rumah keluarga yang suaminya sedang tidak ada di rumah. Atau, Anda menginap terlalu lama di rumah saudara Anda. Kisah berikut bisa menjadi pelajaran.

Ada orang asal jawa yang senang “basa-basi” menawarkan kepada saudaranya untuk menginap di rumahnya. Liburan awal tahun 2013, ia pulang kampung dan berhasil mengajak saudaranya untuk ikut ke Jakarta. Betapa bahagia dan bangganya ia bisa memamerkan rumahnya yang megah dan besar kepada saudaranya dari kampung.

Hari pertama hingga hari ketiga, ia masih merasa happy dan enjoy atas keberadaan saudaranya. Mulai hari keempat ia sudah resah karena ternyata kebiasaan saudaranya banyak yang tidak cocok dengan dirinya. Tetapi ia tidak berani meminta atau mengusir saudaranya untuk pulang kampung. Sangat pantang bagi orang jawa melakukannya dengan terus terang.

Setelah beberapa pekan, ia merasa sudah tidak tahan, akhirnya ia bertekad bulat ingin mengusir saudaranya dengan cara yang sangat lembut dan halus. Ia memberanikan diri bertanya, “Tidak kangen sama yang di kampung mbakyu?” Dengan pertanyaan itu dia berharap saudaranya segera pulang ke kampung.

Deg-degan lelaki jawa yang sudah lama di tinggal di Jakarta ini menunggu jawaban, dan tidak berapa lama kemudian saudaranya menjawab, “Saya sudah kangen banget, kang mas. Makanya tadi pagi saya sudah telepon saudara-saudara yang di kampung.”

Mendengar jawaban tersebut “mak nyes” perasaan lelaki itu. Ia bergumam di dalam hati, “Alhamdulillah, akhirnya sebentar lagi saudara saya pulang ke kampung.” Ia pun kemudian memberanikan diri bertanya lagi, “Ngobrol apa tadi di telepon?” Dengan cepat saudaranya itu menjawab, “Karena saya kangen dengan mereka, maka tadi lewat telepon saya mengundang semua saudara untuk menginap di rumah ini mulai besok.”

Salam SuksesMulia!

Posted by jamilazzaini

Manusia 100%

Jadilah manusia 100%, bila tidak itu sama saja dengan 0%. Nasihat ini saya dapatkan dari sahabat saya Syamsul Arifin. Misalnya, Anda di rumah punya home teater yang memerlukan daya listrik 1.200 watt padahal daya listrik di rumah Anda hanya 1.199 watt, apakah home teater ini bisa digunakan? Tidak. Ternyata, hanya kurang daya 1 watt hasilnya nihil.

Dalam menjalankan sesuatu, lakukan dengan kekuatan penuh 100%! Sebab, bila ada keraguan atau kemalasan 1% saja hasilnya nihil. Masih belum yakin? Saya contohkan lagi, bila Anda sholat Ashar 4 rakaat, sudah duduk di tahiyat akhir, hanya kurang salam ke kanan dan ke kiri. Tiba-tiba Anda batal, apakah sholat And sah? Tidak, sesuatu yang tidak 100%, hasilnya nihil.

Bukan hanya beragama yang perlu 100% alias kaffah atau menyeluruh, dalam semua aktivitas yang kita lakukan selalu gunakan kekuatan penuh 100%. Kalau tidak begitu hasilnya nihil alias 0 (nol). Saat Anda menekuni profesi tertentu, maka tekunilah dengan kekuatan penuh. Jadikan ia pilihan hidup Anda, bukan hanya sekadar pelarian.

Manusia 100% selalu memberi yang terbaik. Ia buang keraguan. Ia campakkan kemalasan. Ia buang keluhan.

Untuk menjadi manusia 100% tidak perlu menunggu kesempurnaan. Hidup itu proses, yang terbaik hari ini memang belum tentu terbaik di kemudian
hari. Tetapi teruslah berusaha memberi yang terbaik kapanpun dan dimanapun.

Saat bersama keluarga, fokuskan energi, kasih sayang dan waktu Anda full untuk mereka. Jangan pernah saat pasangan hidup, anak-anak atau orang tua Anda mengajak bicara, Anda malah sibuk memainkan smart phone atau gadget lainnya. Bila itu Anda lakukan, maka Anda bukanlah manusia 100%, keharmonisan keluarga Anda bisa nihil alias hampa.

Saat Anda menekuni profesi Anda berusahalah dengan kekuatan 100%. Asahlah profesi pilihan Anda setiap saat, terus belajar dan mencari feed back dari orang-orang yang ahli

Keluhan dan kemalasan saat menjalani profesi hanya menjadikan Anda bukan manusia 100%. Jangan heran jika Anda tidak memperoleh apa-apa. Kalaulah Anda mendapat bayaran, sebenarnya itu belas kasihan dari orang yang membayar Anda!

Jadilah manusia 100% agar apapun yang kita lakukan mempunyai arti, nilai dan tidak berujung sia-sia. Mau? Mulailah sekarang juga…
(Jamil Azaini)