Evolusi Wayang

Seperti museumnya yang terus bergulat untuk mendongkrak jumlah pengunjung, kesenian wayang yang enam tahun silam didaulat UNESCO sebagai World Master Piece of Oral and Intangible Heritage of Humanity juga menghadapi tantangan dalam mempertahankan popularitas dirinya dari masa ke masa.

Sejak didirikan 34 tahun lampau, tata ruang Museum Wayang nyaris tidak berubah. Kondisi di bagian dalam gedung yang terletak di jantung Kota Tua Jakarta itu suram dengan cat dinding yang mulai pudar kecemerlangannya. Debu terdapat hampir di mana-mana, melekat pada lemari kaca di mana koleksi-koleksi wayang dipajang. Kesuraman makin ditambah dengan penerangan lampu yang redup.

Menurut penelusuran Sekretariat Pewayangan Indonesia (Senawangi), seni wayang dimiliki oleh tidak kurang dari 18 provinsi negeri ini. Namun, cuma seni wayang gaya (gagrag) tertentu yang mampu hidup, berkembang, memiliki penikmat dalam jumlah yang banyak, serta memberikan kehidupan yang layak kepada para pelakunya.

Senawangi mencatat, Wayang Bali, Wayang Kulit Jawatimuran, Surakarta, Yogyakarta, serta Wayang Golek Sunda merupakan jenis-jenis wayang yang lestari dan tetap mengalami perkembangan. Sementara itu Wayang Sasak, Wayang Golek Menak, dan Wayang Kulit Cirebon berkembang lamban. Yang rapornya merah adalah Wayang Palembang dan Wayang Banjar. Keduanya dinilai nyaris punah.

Apa yang dibutuhkan agar suatu jenis seni wayang mampu terus hidup di tengah-tengah perubahan zaman?

Tentu pendekatannya harus lebih tajam dan kontekstual dengan masa kini. Dari segi filosofi dan kultural, wayang masih relevan. Pakem itu bisa terus dipakai, tetapi perlu kreativitas penciptaan modus dan pendekatan agar mengarah kepada pendidikan moral.

Alhasil sejak akhir 1980-an, pentas dengan tiga, empat, lima, dan bahkan sepuluh orang dalang sudah bukan sesuatu yang mustahil dalam pertunjukan wayang kulit. Tidak hanya di Jakarta, tetapi juga di Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Jawa Timur. Hal serupa juga terlihat dalam pentas wayang golek Sunda.

Tidak berhenti hanya sampai di sana, kreativitas para pelaku dalang dalam memodifikasi wayang merambah ke berbagai segi kesenian itu sendiri. Dari sisi perangkat pentas, panggung juga ada yang diset megah dengan kelir lebar. Wayang pun banyak yang cat dasarnya menggunakan warna emas untuk menambah kesan megah, tidak lagi warna asli kulit samakan.

Dalang Sajogo (kanan) melatih anaknya serta seorang anak tetangga untuk memainkan wayang. Sajogo yang berasal dari Solo mengembangkan kesenian wayang di Tanjungpinang, Riau. Ketiika sebagian dalang berlomba dalam inovasi, sebagian lainnya tetap memegang pakem wayang klasik dan optimistis kesenian ini terus hidup.

Slamet Gundono dianggap sebagai salah satu dalang muda paling kreatif. Nama pertunjukannya pun macam-macam, sampai pernah disebut wayang kondom. Dia semula dikenal lewat pementasan wayang kulit dan wayang suket yang dibuat dari rumput, serta wayang-wayang yang dimainkan tanpa boneka wayang.

 

Untuk menjaring pemirsa lebih luas, pertunjukan wayang kontemporer terkadang digelar di tempat yang sebelumnya tidak terpikirkan, seperti di sebuah mal di Yogyakarta ini. Terobosan semacam ini kurang cocok diterapkan pada pertunjukan wayang klasik yang mementingkan ketaatan pada pakem dan nilai-nilai.

Sebuah adegan dalam pertunjukkan wayang kontemporer yang digelar para seniman muda di Yogyakarta. Pentas yang disebut Wayang Pixel ini adalah salah satu upaya agar wayang mampu terus mengiringi zaman.

Berbagai macam karakter “nontradisional” diperkenankan dalam kesenian wayang kontemporer.

Dengan dibantu para asistennya yang bertugas memantikkan api ke gas elpiji yang dialirkan lewat pipa, dalang Edy Siswanto menampilkan dahsyatnya pertempuran dengan kobaran api. Para dalang yang tidak terikat pada pakem wayang klasik menggunakan apa saja: mulai sinar laser hingga papan luncur.

Petir, daun, bentuk wajah, maupun nuansa-nuansa di hutan adalah latar belakang yang diciptakan dengan overhead projector dalam sebuah pertunjukan wayang kontemporer seperti yang dipentaskan di Jember, Jawa Timur. Dalam pertunjukan wayang kulit klasik, kelir atau layar dibiarkan polos tanpa hiasan apapun.

Dalang Edy Siswanto yang terkenal dengan julukan “Sabet Alap-Alap” rajin melatih otot-otot lengan dan tangannya dengan mengangkat pemberat, minimal satu jam setiap kali, atau melakukan push up. Improvisasi andalannya di atas pentas adalah sabetan (gerakan tangan yang cepat) dalam memainkan wayang.

MARI LESTARIKAN KEBUDAYAAN INDONESIA!

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s