Kesalah Kaprahan Dalam Ibadah Qurban

Kurban merupakan kegiatan penyembelihan hewan yang dilakukan pada hari raya haji dan tiga hari kemudian (10-13 Dzulhijah) sebagai bentuk ibadah kepada Allah SWT. Kurban dimaksudkan untuk menggembirakan kaum fakir miskin—-sebagaimana di hari Idul Fitri mereka digembirakan dengan zakat fitrah. Sejarah ibadah kurban bisa dilihat pada QS Ash-Shaffaat 102-107 yang mengisahkan Nabi Ibrahim AS.

Kurban hukumnya sunah bagi yang tidak mampu dan wajib bagi yang mampu. Dalam QS Al-Kautsar 1-2 disebutkan bahwa kurban dianggap “sejajar” dengan sholat. Apabila kita sudah diberi nikmat (mampu) kita diperintahkan untuk berkurban. Selain itu, nadzar untuk berkurban juga bisa menjadikan kurban sebagai wajib walaupun sebenarnya belum bisa dikatakan mampu.

Ukuran mampu menurut hadist berarti umat Islam yang cukup baligh dan berakal. Sementara mampu secara materi berarti mempunyai penghasilan melebihi nisab sebesar 93,6 gram emas (kira-kira Rp 20 juta per tahun atau Rp 1,6 juta per bulan).

Sayangnya, dalam perjalanannya kurban mengalami banyak pergeseran yang mungkin sudah tidak sesuai dengan tuntunannya.

Pesta Daging Besar-besaran

Fenomena yang terjadi saat ini, kurban bukan untuk menggembirakan fakir miskin, melainkan menjadi pesta daging besar-besaran. Yang jamak terjadi, daging kurban dibagikan kepada semua warga. Tak jarang seorang warga bisa mendapat jatah dobel. Si bapak sebagai shohibul dapat jatah, anaknya yang menjadi panitia mendapat bagian, istrinya yang membantu memasak juga dapat bagian. Belum lagi rumah mereka yang ada di perbatasan sehingga dapat jatah dari kelurahan A dan kelurahan B.

Padahal, dalam QS Al-Hajj 28 disebutkan dengan sangat jelas, “Maka makanlah sebahagian daripadanya dan (sebahagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara lagi fakir.” Kalau seluruh warga adalah fakir miskin, tidak masalah. Namun kalau tidak, tentu ini sudah menyalahi firman.

Dalam suatu hadist, disebutkan bahwa shohibul kurban berhak mendapat 1/3 bagian. Namun, karena kurban adalah soal keikhlasan dan shohibul kurban sehari-harinya (dianggap) sudah terbiasa makan daging, maka alangkah baiknya bila seluruh daging kurban diserahkan saja kepada fakir miskin.

Panitia Mendapat Bagian

Seperti sudah ditulis di atas, QS Al-Hajj 28 menyatakan bahwa orang yang berhak memakan daging kurban hanya fakir miskin dan orang yang berkurban. Panitia tidak mendapat hak atas daging kurban. Bandingkan dengan zakat. Dalam QS At-Taubah 60 disebutkan bahwa pengurus zakat berhak mendapat bagian.

“Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para muallaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berutang, untuk jalan Allah dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan.”

Karenanya, alangkah lebih baik bila panitia, penyembelih, dan pengurus yang terlibat dalam kegiatan tersebut tidak meminta bayaran karena semua merupakan hak fakir miskin. Bagian panitia bisa saja diambilkan dari bagian shohibul, tetapi dengan ijin. Atau, saweran saja di antara para shohibul untuk memberi “uang lelah” kepada panitia.

Kurban Atas Nama

Seringkali kita melihat kurban yang dilakukan dengan mengatasnamakan anak, istri, atau orang tua. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan mengatasnamakan kurban untuk anak atau istri—-asalkan mereka mampu.

Lagipula, berkaca pada cerita Nabi Ibrahim, kerjasama antara beliau, istrinya, dan Ismail, menunjukkan bahwa kurban bukan ibadah “sendirian.” Apabila dilakukan dengan ikhlas dan benar, insya Allah semua anggota keluarga juga ikut mendapatkan pahala.

Bagaimana dengan orang tua? Apabila orang tua belum mampu, maka anak harus “memampukan” orang tua, dengan cara memberikan sebesar nisab plus zakat. Kalau orang tua sudah meninggal, maka kurban hanya bisa dilakukan bila orang tua semasa hidupnya memang mampu dan berpesan (wasiat) untuk berkurban.

Kulit Dijual Lagi

Tak jarang panitia menjual kulit hewan kurban untuk kas masjid. Tentu saja hal ini tidak boleh dilakukan, karena hewan kurban adalah hak fakir miskin. Hal yang boleh dilakukan adalah menjual kembali kulit hewan kurban, lalu diserahkan kepada fakir miskin dalam bentuk uang atau dibelikan daging.

Ada juga panitia yang menjual kulit hewan kurban, menyimpan uangnya, lalu dibelikan hewan kurban lagi pada tahun yang akan datang. Hal ini tidak bisa dianggap “sah” karena telah melewati batas waktu yang ditentukan. Analoginya mirip dengan memberikan zakat fitrah sesudah sholat Ied atau menjalankan sholat ashar pada waktu masuk isya’.

Latihan dan Arisan Kurban

Di sekolah-sekolah, para guru dan murid biasanya mengumpulkan iuran (misal Rp 20 ribu per orang) untuk dibelikan kurban. Ada yang kemudian dimasak dan dimakan bersama, namun ada pula yang dibagikan kepada fakir miskin. Alasannya biasanya klasik: agar murid berlatih kurban.

Sebenarnya, ada yang kurang pas disini. Tuntunan kurban sudah jelas, bahwa satu ekor kambing untuk satu orang. Namun, agar daging yang diperoleh bisa lebih banyak, kurban sapi bisa dibagi untuk 7 orang dan unta bisa untuk 10 orang—-bukan iuran Rp 20 ribu lalu sama-sama dibelikan kambing atau sapi.

Ada kalanya di suatu instansi dilakukan kurban dengan cara arisan. Walaupun agak nyeleneh, cara ini boleh saja dilakukan, asalkan para anggota arisan sudah masuk kategori mampu.

Hitungan dan Penerima Kurban

Orang sering mengartikan misalkan seseorang berkurban lima ekor sapi, maka satu ekor dihitung sebagai kurban dan empat sisanya merupakan shodaqoh. Tentu saja hal ini tidak benar, karena dasar hukum kurban adalah keikhlasan—-tidak seperti zakat yang sudah ditentukan besarannya dan bila sisa akan dihitung sebagai shodaqoh.

Selain itu, ada juga sebagian yang menganggap bahwa daging kurban hanya untuk umat Islam. Hal ini jelas salah besar, karena peruntukkan daging kurban adalah untuk fakir miskin—-tanpa membedakan muslim dan non muslim. Menurut saya, justru dengan memberikan daging kurban kepada mereka yang non muslim akan menjadi salah satu selling point (syi’ar) agama.

Shohibul kurban memang berhak menunjuk penerima kurban, namun tentu saja harus memenuhi kriteria miskin dan sengsara.

Saran dan Himbauan

Kurban sejatinya merupakan ujian keikhlasan kita, jadi jangan berusaha untuk “bermain” atau “mengakali” ibadah kurban kalau tidak berani menanggung dosanya. Sebagaimana tertulis dalam QS Al-Anfal 28 dan At-Taghaabun 15, harta hanyalah cobaan buat kita. Ibrahim saja ikhlas diminta anaknya, masa kita hanya diminta sedikit harta saja sudah ribut nggak karuan?

Walaupun daging kurban boleh diambil oleh shohibul kurban sebagian, namun alangkah lebih baik bila diikhlaskan saja seluruhnya untuk fakir miskin. Selain itu, sangat memalukan bila shohibul kurban “nggondeli” untuk mendapatkan bagian daging kurban tertentu—-apalagi bila sampai terjadi saling rebut dan “cakar-cakaran.” Nabi Ibrahim saja mengikhlaskan seluruh bagian tubuh Ismail, masa kita nggak?

Lebih dari itu, kisah nabi Ibrahim sebenarnya juga mengajarkan kita akan keluarga yang sakinah. Ibrahim mendapat ujian dari Allah SWT, namun mau berkomunikasi dan meminta pendapat dengan anak dan istrinya. Di sisi lain, anak dan istrinya menghormati dan mendukung keputusan ayahnya, sehingga terjalin sinergi yang apik dalam keluarga tersebut.

Model keluarga Ibrahim inilah yang seharusnya kita contoh. Keikhlasan menjadi laying foundation dalam kehidupan berkeluarga. Anak menghormati orang tua, sementara orang tua juga menghormati anaknya. Orang tua mendidik anak dengan lemah lembut dan penuh kasih sayang, sementara anak mendengarkan dan mematuhi nasehat orang tua di jalan Allah SWT

1 Comment

  1. SEBUAH KASUS
    Dalam tradisi masyarakat Indonesia setiap merayakan Idul Adha, biasa memberikan daging qurban kepada panitia pengurus hewan qurban, sehingga mereka mendapatkan bagian daging, boleh mengonsumsi, dan memanfaatkannya. Namun ada studi fiqih di suatu majalah Islam yang berpendapat berbeda. Dalam studi itu dikatakan, panitia qurban tidak berhak mendapatkan daging qurban. Pertimbangannya, daging qurban tidak boleh diberikan kepada panitia sebagai upah atas jerih-payahnya mengelola hewan qurban. Daging qurban harus didistribusikan secara sempurna, tanpa ada yang dijual, tanpa ada yang diberikan sebagai upah. Dalam pandangan ini, kalau panitia bekerja mengelola qurban, cukup bekerja saja; tidak perlu berharap akan mendapat bagian daging. Andaikan panitia harus menerima daging, ia diberikan kepada isterinya, bukan ke tangan panitia itu sendiri.

    IMPLIKASI SOSIAL
    Pandangan dalam studi fiqih di atas bila menyebar luas di tengah masyarakat, tentu akan memiliki implikasi besar. Ia bisa menmbulkan keresahan tersendiri. Bila pandangan itu diamalkan, maka para panitia qurban dilarang menerima daging atau pembagian manfaat apapun dari hewan qurban. Bisa jadi mereka akan memilih menjadi masyarakat biasa yang tidak terlibat kepanitiaan, agar tetap bisa mendapatkan daging. Di sisi lain, pengadaan, penyembelihan, dan pembagian daging qurban akan berkembang secara KOMERSIAL. Maksudnya, setiap yang bekerja dengan hewan qurban menuntut upah secara profesional (komersial), dengan pertimbangan mereka tidak berhak mendapatkan jatah daging sedikit pun.

    Tentu saja, bukan seperti itu yang diharapkan dari syiar Idul Adha. Idul Adha adalah hari raya kaum Muslimin, hari kebanggaan, hari wibawa, hari kebahagiaan Ummat. Tidak semestinya momen ‘Idul Adh-ha dikembangkan dengan semangat komersialitas. Ia tetap harus dikembangkan dalam rangka syiar Islam, ketakwaan, keikhlasan, dan mencari berkah dari sisi Allah Ta’ala. Kalau iklim komersial yang berkembang, lambat-laun syiar udh-hiyah itu akan lenyap. Na’udzubillah wa na’udzubillah min dzalik.
    INTI MASALAH
    Di hadapan kita ada beberapa pertanyaan mendasar yang wajib dicarikan jawabannya menurut arahan Syariat Islam, yaitu: “Bagaimana hukum panitia qurban yang menerima jatah pembagian daging qurban? Bolehkah atau dilarangkah? Bagaimana hukumnya panitia qurban dan keluarganya mengonsumsi daging hewan qurban, atau memanfaatkan apa yang diperoleh untuk keperluan hidup mereka?”

    RUJUKAN
    Untuk menjawab pertanyaan di atas, coba buka-buka beberapa referensi kitab fiqih yang ada. Misalnya,
    “Ringkasan Shahih Muslim” karya Imam Al Mundziri;
    “Bulughul Maram” karya Ibnu Hajar Al Asqalani;
    “Mulakhas Fiqhiy” karya Syaikh Shalih Al Fauzan;
    “Tafsir Ibnu Katsir”, khususnya saat membahas Surat Al Hajj ayat 28 dan 36;
    “Fiqh Islam” karya H. Sulaiman Rasyid;

    PEMBAHASAN
    Untuk menemukan jawaban yang memuaskan dari kasus yang disebutkan di awal tulisan ini, ada beberapa poin pembahasan yang perlu disampaikan. Secara berurutan disebutkan sebagai berikut:

    [1] Pada dasarnya, panitia qurban BERHAK mendapatkan jatah daging qurban, berhak mengonsumsi, atau mengambil manfaat dari hewan qurban yang dibagikan. Dalilnya sederhana, bahwa tidak ada larangan dalam Al Qur’an atau As Sunnah yang mengharamkan panitia mendapat jatah daging qurban. Kita tidak pernah mendapati ayat Al Qur’an atau hadits Nabi Saw yang mengatakan, misalnya, “Barangsiapa bekerja mengatur urusan daging hewan qurban, dilarang memakan dagingnya, atau mengambil manfaat apapun darinya.” Tidak ada indikasi ke arah itu. Kaidah ushul yang berlaku disini, “Al ‘ashlu fil asy-yai al ibadah” (asal dari setiap sesuatu, selama tidak ada yang larangan, ialah mubah atau boleh). Namun hukum ini belum memadai, sehingga perlu diberi penjelasan-penjelasan lain.

    [2] Dalam Surat Al Hajj ayat 28 disebutkan, “maka makanlah hewan qurban itu dan berikanlah makan kepada orang-orang yang tertimpa kefakiran”.

    Terhadap ayat di atas, Ibnu Katsir rahimahullah berkomentar, “Sebagian orang berdalil dengan ayat ini atas wajibnya memakan daging qurban. Ini adalah pendapat yang asing. Akan tetapi pendapat yang paling banyak, bahwa makan daging qurban termasuk bab rukhsah (keringanan), atau mustahab (lebih disukai).”

    Imam Malik rahimahullah berkata, “Aku lebih suka makan hewan qurban, karena Allah Ta’ala berfirman, ‘Makanlah darinya!’” Ibnu Wahab berkata, “Aku bertanya ke Laits, dia berkata seperti itu juga (sependapat dengan Imam Malik).” Sufyan Ats Tsauri rahimahullah berkata, “Dulu kaum musyrikin tidak memakan daging sembelihan untuk qurban. Maka diberi keringanan kepada kaum Muslimin. Siapa yang mau, silakan makan; siapa yang tidak mau, tidak usah makan.” Ibnu Jarir At Thabari rahimahullah juga menetapkan bolehnya memakan daging sembelihan qurban tersebut. Beliau meyitir ayat-ayat lain sebagai qiyas.

    Singkat kata, lebih disukai jika kaum Muslimin mengonsumsi daging hewan qurban. Malah ada yang berpendapat, wajib mengonsumsi. Dengan demikian, jika para panitia hewan qurban itu Muslim, mereka lebih disukai mengonsumsi daging qurban.

    [3] Surat Al Hajj ayat 28 diperkuat oleh ayat selanjutnya, Surat Al Hajj ayat 36. Disana dikatakan, “maka makanlah dari daging qurban itu dan berikan makan kepada orang yang qana’ah dan orang yang mu’tar.”

    Atas ayat di atas, Ibnu Katsir mengatakan, “Berkata sebagian Salaf, ‘Makanlah darinya!’ Ini perkara mubah. Imam Malik berpendapat, ia lebih disukai. Sebagian ulama Syafi’i menghukuminya wajib.” (Perlu diingat, Imam Ibnu Katsir rahimahullah termasuk bermadzhab fiqih Syafi’iyyah).

    Ketika menjelaskan makna, memberi makan kepada al qana’ dan al mu’tar, Ibnu Abbas Ra menjelaskan, “Al qana’ ialah orang yang merasa cukup atas apa yang engkau berikan kepadanya, sedangkan dia ada di rumahnya (maksudnya, tidak keluar rumah untuk meminta-minta daging qurban). Al mu’tar ialah orang yang memohon kepadamu, mencelamu atas daging yang engkau berikan, dan tidak meminta.” Terjemah Depag. RI menyebut al qana’ sebagai yang rela dengan keadaan dirinya, sehingga tidak perlu meminta-minta. Sedangkan al mu’tar, orang yang meminta diberi daging.

    Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Telah berhujjah dengan ayat ini sebagian ulama, bahwa hasil sembelihan qurban dibagi 3 bagian: 1/3 untuk yang berqurban, 1/3 untuk dihadiahkan kepada teman-temannya, dan 1/3 lagi disedekahkan untuk fakir-miskin.”

    Syaikh Shalih Al Fauzan berpendapat, “Lebih disukai makan hewan dari hadyu, jika hadyu untuk Haji Tamattu’ dan Qiran. Dan disukai makan dari hewan qurban, diberikan sebagai hadiah, dan disedekahkan, sepertiga-sepertiga. Seperti firman Allah, ‘Maka makanlah darinya dan berikan makan.’” (Mulakhas Fiqhiy. Juz I, hal 317).

    Dengan penjelasan Surat Al Hajj ayat 38 ini, maka hukum memakan daging qurban bagi kaum Muslimin, bersifat lapang. Ia boleh diberikan kepada manusia yang meminta dan yang tidak meminta. Boleh diberikan kepada kaum fakir-miskin, maupun orang kaya yang sehari-hari makan daging. Andaikan bukan karena rasa lezat dan kandungan gizi dari daging qurban, setidaknya bisa diambil berkahnya.

    [4] Sebuah hadits dalam riwayat Imam Bukhari-Muslim. Anas Ra. berkata, “Rasulullah Saw pernah berqurban dengan dua ekor kambing kibasy putih, yang telah tumbuh tanduknya. Aku pernah melihat beliau menyembelih kedua kambing itu dengan tangannya, aku melihat beliau meletakkan kakinya di pangkal leher kedua domba itu, lalu membaca bismillah dan bertakbir.” Dalam riwayat lain, Rasulullah meminta Aisyah Ra. memberikan beliau pisau tajam untuk menyembelih hewan udh-hiyyah (qurban).

    Disini didapat dalil, bahwa seseorang boleh menyembelih hewan qurban miliknya dengan tangannya sendiri. Malah cara seperti itu lebih baik, sesuai Sunnah Nabi Saw. Dan orang yang menyembelih ini tidak diharamkan makan hasil sembelihan daging qurban-nya. Rasulullah Saw sendiri menyembelih, keluarganya lalu memasak dagingnya, dan beliau memakan hasil masakan itu. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir, juz VI, hal. 307). Jadi, anggapan bahwa pihak yang menyembelih hewan qurban tidak berhak makan daging qurban dimentahkan oleh riwayat-riwayat itu.

    [5] Dalam hadits lain, masih riwayat Bukhari Muslim, disebutkan dalam Bulughul Maram, hadits no. 1166, tentang Kitab Adha-hiy. Dari Ali bin Abi Thalib Ra., dia berkata, “Rasulullah Saw menyuruhku mengurus hewan sembelihannya (qurban). Beliau perintahkan aku membagikan dagingnya, kulitnya, bulunya, untuk kaum fakir-miskin. Dan tidak memberikan sedikit pun kepada tukang jagalnya.”

    Hadits ini sangat menarik, sebab dari riwayat ini kita bisa mengambil hikmah, bahwa kepanitiaan hewan qurban itu sudah ada sejak jaman Nabi Saw. Meskipun pada awalnya bersifat sederhana, dengan melibatkan Ali Ra sebagai pengelola dan pendistribusi hewan qurban tersebut.

    Atas riwayat di atas As Shan’ani, penulis kitab Subulus Salam, memberikan penjelasan sebagai berikut, “Kulit, bulu, daging hewan qurban harus dibagikan seluruhnya sebagai sedekah. Seseorang yang berqurban boleh memakan sebagian dagingnya, boleh mengambil kulitnya untuk keperluan pribadi, dan tidak untuk dijual. Memberikan daging qurban kepada penjagal sebagai imbalan atas kerjanya, dilarang. Sebagian orang tidak memberi upah sama sekali kepada tukang jagal, ini tidak boleh. Kalau kemudian tukang jagal itu menerima upah tidak seperti yang dia harapkan, itu diperbolehkan.”

    Disini didapat penjelasan, bahwa perintah tidak memberikan daging kepada tukang jagal (al jizarah), ialah jika daging itu diberikan sebagai upah atas kerja tukang jagal tersebut. Padahal ketentuannya, semua bagian hewan qurban yang bisa dimanfaatkan dibagikan, bukan dijual, atau dikonversikan menjadi upah kerja.

    Dalam sebuah riwayat, Rasulullah Saw bersabda, “Jangan dijual daging hadyu dan daging qurban. Makanlah dagingnya, bersedekahlah dengannya, ambil manfaat dari kulitnya, jangan dijual kulit itu.” (HR. Ahmad).

    KESIMPULAN PENTING
    Ada beberapa kesimpulan penting yang bisa ditarik disini, yaitu:
    • Lebih utama bagi kaum Muslimin untuk mengonsumsi daging hewan qurban.
    • Daging hewan qurban diberikan kepada kaum Muslimin yang meminta (al mu’tar) dan yang tidak meminta (al qana’). Keduanya berhak mendapatkan.
    • Daging hewan qurban secara umum dibagi 3 bagian: 1/3 untuk pihak yang berqurban; 1/3 untuk kawan-kawan pihak yang berqurban, dan 1/3 lagi disedekahkan untuk fakir-miskin.
    • Hasil hewan qurban dibagikan seluruhnya, tidak ada yang dijual dan tidak ada yang diberikan sebagai upah dalam bentuk daging, kulit, atau bulu.
    • Tukang jagal yang bekerja menyembelih hewan qurban tidak boleh diupah dengan daging qurban, kulit, atau bulunya. Dia boleh diupah dengan harta yang lain. Apabila tidak memberikan upah sama sekali, menurut As Shan’ani hal itu tidak boleh.
    • Tradisi mengurus hewan qurban, lalu membagikan ke masyarakat, sudah ada sejak jaman Rasulullah Saw. Dicontohkan dengan perbuatan Ali bin Abi Thalib Ra.

    BAGAIMANA POSISI PANITIA QURBAN?
    Sebagai kaum Muslimin, panitia qurban jelas berhak mendapatkan daging qurban, berhak menikmati, dan memanfaatkan hasil sembelihan qurban. Mereka adalah bagian dari kaum Muslimin yang berhak mendapat keberkahan Yaumun Nahr (hari raya Idul Adha).

    Lebih kuat lagi, apabila mereka membutuhkan daging tersebut untuk keperluan diri dan keluarganya. Hal ini benar-benar diperbolehkan (Surat Al Hajj ayat 36). Bahkan bila panitia itu tergolong fakir-miskin, mereka lebih berhak.

    Adapun panitia yang ikut terlibat dalam mengurus hewan qurban, dalam rangka ingin mendapatkan bagian daging qurban, hal itu diperbolehkan. Bahkan, andaikan mereka duduk di rumah saja, mereka berhak diberi. Andaikan mereka meminta jatah daging, tanpa harus bekerja, itu juga diperbolehkan. Apalagi kalau sampai mereka ikut terlibat mensukseskan pengelolaan hewan qurban, mereka lebih diutamakan dari orang-orang yang hanya menunggu diberi daging.

    Hanya saja, urusannya menjadi lain, kalau niat panitia bersifat komersial. Misalnya, dia terlibat mengurus hewan qurban semata-mata karena ingin MENDAPAT UPAH. Tentunya, upah itu dalam bentuk uang. Jika tidak ada uang, dia menuntut supaya upah dikonversi dalam bentuk daging. Nah, perbuatan seperti ini yang tidak diperbolehkan. Hasil daging qurban bukan untuk upah.

    Tetapi BEKERJA mencari upah sendiri bukan aib. Setiap Muslim boleh bekerja mencari upah demi kebaikan diri dan keluarganya. Hanya saja, kalau mencari upah saat mengelola hewan qurban, tidak boleh meminta upah dengan cara dibayar daging, kulit, atau bulu hewan qurban. Upah itu bisa berupa uang, atau barang-barang lain yang disepakati, selain bagian hewan qurban. (Misalnya, upah diminta dalam bentuk korma, tepung roti, ikan, minyak, atau apa saja di luar bagian hewan qurban).

    Kalau ada panitia yang terlibat dengan niat mencari upah, harus diberikan upahnya. Dan hal itu harus dilakukan kesepakatan sebelum urusan pengelolaan hewan qurban dimulai. Adapun bagi yang mencari berkah dari rizki Allah berupa hewan qurban, harus diberikan bagiannya. Bahkan siapa yang tidak mencari pun, asalkan Muslim dan jatah dagingnya mencukupi, berhak diberi pula.

    Dan sebaik-baik niat terlibat dalam kepanitian qurban ialah dalam rangka mensukseskan syiar agama Allah di muka bumi. Niat demikian, selain mendapat pahala takwa, juga berhak mendapat berkah daging hewan qurban. Dalam Al Qur’an disebutkan, “Dan siapa yang mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya hal itu timbul dari ketakwaan hati.” (Surat Al Hajj: 32).

    Semoga kajian sederhana ini bermanfaat bagi Ummat; menghilangkan keragu-raguan di hati –atas ijin Allah-; bisa membantu meninggikan syiar agama Allah, dan ikut menanam saham bagi kekalkan barakah Idul Adha bagi kaum Muslimin. Semoga Allah Al Karim memuliakan kita semua. Amin Allahumma amin.

    Wallahu A’lam bisshawaab.


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s