Hari Ibu Milik Semua Wanita

20111222-130214.jpg

Bahkan, ketika saya belum menjadi seorang ibu, naluri keibuan telah lebih dulu memenuhi relung hati saya. Saya memang sangat menginginkan menjadi seorang ibu, yang mengandung, melahirkan, menyusui, mengasuh, menyayangi dan mengasihi anaknya.

Teringat kejadian beberapa saat yang lalu, ketika saya menonton sebuah ajang bakat anak-anak. Saya sangat antusias mengikutinya, meskipun saya tidak memiliki misi apapun selain ingin menonton pertunjukan bakat dari anak-anak tersebut, dan meskipun saya pergi menghadirinya seorang diri, hal itu tidak menghalangi, karena saya sangat menyukai anak kecil.

Perlombaan itu dilaksanakan di sebuah mall di kota saya, panggung yang mewah dan arena bermain yang sangat cantik membuat saya ingin segera bergabung dan bermain dengan para anak dan ibunya itu, ingin mengabadikan kegemasan atau kelincahan mereka beraktifitas, meskipun hanya lewat sebuah kamera digital sederhana.

Namun, sayang seribu sayang, saya tidak diperbolehkan masuk ke dalam arena perlombaan itu. Akhirnya saya memilih untuk berdiri di luar arena Lomba dan memilih posisi dekat dengan panggungnya. Acara seru segera dimulai, ketika seorang anak laki-laki yang bergerak lincah menari mengikuti alunan lagu chaiya-chaiya, justru membuat saya meneteskan air mata.

Bibir ini tertawa bahagia, melihat kreatifitas seorang anak yang sungguh mempesona saya, seakan menyihir para penonton untuk tidak mengedipkan mata barang sejenakpun. Saya senang melihat aksi anak sekecil itu tapi sekaligus sedih karena saya tidak boleh masuk ke dalam arena panggung itu, ya karena saya kan belum punya anak. Antara bahagia dan sedih campur jadi satu dalam deraian air mata. Saya bangga kepada mereka, meskipun saya bukanlah siapa-siapanya.

Lihat, bahkan seorang wanita seperti saya yang belum pernah mengalami masa kehamilan, masa melahirkan, masa menyusui, masa mendidik dan mencurahkan cinta dan kasih sayang, tapi saya telah memiliki naluri seorang ibu. Itulah salah satu kehebatan dari seorang wanita, bakat keibuannya selalu melekat walau seperti apa keadaan dirinya.

Sungguh dahsyat apa yang dikaruniakan Allah kepada seorang wanita, indah, cantik dan penyayang. Naluri keibuannya merupakan senjata paling ampuh di dunia ini yang mampu meluluhlantakkan dan meleburkan perasaan amarah dari anak-anaknya atau dari orang lain yang ikut merasakan kasih sayangnya. Rasa keibuan adalah sebuah naluri yang dinanti semua orang, bahkan untuk seorang superhero pun membutuhkan naluri keibuan dari seorang superwomen.

Maka, hari ibu yang diperingati pada hari ini tidak sepenuhnya milik seorang ibu, tapi juga milik dari semua wanita. Karena, suatu saat, wanita-wanita seperti saya ini juga akan merasakan dan menduduki posisi sebagai seorang ibu. Dan, tiada hari tanpa mengasah naluri keibuan serta mencurahkan kasih sayang kepada ibunda sendiri.

Selamat hari ibu untuk semua wanita di dunia.

**Pengen ada yang ngucapin “Selamat Hari Ibu…” juga :)
(Irda Handayani)

Jangan Menyalahkan Tuhan

Sebagian kita mulai menyalahkan musim hujan yang kembali menyapa kita. Padahal, jika tidak ada hujan, kekeringan juga akan datang dengan dampak yang jauh lebih buruk. Artinya, hujan atau tidak, bergantung pada cara manusia memperlakukan alam ini.

Manusialah yang menjadikan hujan bak monster ganas. Hutan yang dulu rindang kini gundul dan tak terurus. Sungai yang dulu megalir dengan jernih, kini keruh dan tersumbat. Bahkan, beberapa sungai justru menjadi tempat sampah dan menimbulkan bau tak sedap.

Alam tak bersahabat lagi dengan kita. Maka, air hujan yang dulu memberikan banyak manfaat, kini justru menimbulkan banyak mudharat. Sejatinya air hujan adalah berkah yang dengan kehadirannya untuk keseimbangan alam. Bahkan, hujan juga merupakan stimulus dari Allah agar manusia berpikir dengan jernih dan beriman kepada Allah semata.

“Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui.” (QS al-Baqarah [2]: 22).

Dan hujan itu dibutuhkan bagi kelangsungan hidup manusia itu sendiri. (Lihat QS [32]: 27). Prinsipnya hujan itu adalah berkah dari Allah demi kesejahteraan manusia dan keseimbangan alam semesta. Tanpa hujan, bumi akan diliputi oleh kekeringan yang berujung pada kegersangan, kelaparan, dan berakhir pada kematian.

Faktanya hari ini hujan tidak demikian. Di beberapa tempat, musim hujan justru menjadi aba-aba kewaspadaan yang sangat dikhawatirkan. Sebab, tidak lama lagi banjir akan menemui mereka. Dalam situasi demikian, siapakah yang salah?

Tentu bukan Tuhan yang keliru, tapi manusialah yang bersalah. Allah telah menurunkan penjelasannya dalam Alquran. Pertanyaannya, sejauh mana kita mentadabburinya, sehingga mengerti dengan sebenarnya bahwa hujan itu adalah berkah. Dan, karena itu kita mampu membuat satu kebijakan yang bisa mengundang berkah.

Tatkala Allah menurunkan ayat tersebut di atas, target yang dikehendaki oleh-Nya ialah manusia bisa memelihara keseimbangan alam. Berpikir bagaimana kehadiran hujan mampu memberikan manfaat besar seperti yang difirmankan-Nya. Bermanfaat bagi pertanian, peternakan, kehidupan, dan keindahan alam. Jadi, bukan Tuhan yang salah ataupun alam yang tidak mau bersahabat. Tetapi, manusialah yang salah mengelola lingkungan.

Banjir itu terjadi karena manusia lalai dalam mengantisipasinya. Ketika sebuah kota dibangun dengan tanpa perencanaan yang baik, pasti banjir akan menjadi sahabat mereka. Ketika alam tidak dipelihara dengan serius maka bencanalah sahabat karib mereka. Sekali lagi jangan salahkan Tuhan tapi salah manusia sendiri. Wallahu a’lam.
(Oleh Dr Abdul Mannan)