MENYANTUNI ANAK YATIM

Di antara kewajiban yang ditetapkan agama Islam berkenaan dengan wafatnya seseorang adalah kewajiban yang berkenaan dengan harta. Islam menjamin hak-hak kepemilikan terhadap harta bahkan bila seseorang sudah meninggal dunia. Disamping berkenaan dengan harta, kewajiban tersebut juga berkenaan dengan ahli waris yang ditinggalkannya. Hal inilah yang disebut dengan menyantuni anak yatim.
Imam al-Jashash dalam kitab Ahkam al-Quran menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan anak yatim adalah:
Yatim adalah sebutan/nama untuk anak kecil yang telah wafat bapaknya, bukan orang dewasa, sebagaimana sabda Nabi SAW.:”tidak disebut anak yatim setelah mimpi”
Beliau menambahkan bahwa yang termasuk anak yatim yang wajib disantuni adalah anak yatim yang fakir. Hal ini dapat dilihat dalam ungkapan berikut:
ولا خلاف أنه قد أريد مع اليتم الفقر في هذه الآية وأن الأغنياء من الأيتام لا حظ لهم فيه
Tidak ada perbedaan pendapat di kalangan ulama bahwa sifat faqir termasuk menyertai kategori anak yatim, maka anak yatim yang kaya tidak
Dengan demikian dapat dipahami bahwa batasan anak yatim yang wajib disantuni adalah yang masih kecil dan fakir. Disamping itu pengertian anak yatim juga dibatasi anak yatim yang masih kecil karena pada masa ini mereka masih belum dapat bertindak secara hukum (ahliyatul ada`) dan mereka membutuhkan bimbingan dan perlindungan. Batasan ini secara hukum dikenal dengan taklif, yakni batasan yang menetapkan seseorang dapat bertindak secara hukum yaitu usia baligh. Dalam hal batasan usia anak yatim maka al-Quran menetapkan bila mereka mendekati usia menikah, sebagai mana dijelaskan Allah dalam ayat berikut:
ﻮﺍﺑﺘﻠﻮﺍ ﺍﻠﻴﺘﻤﻰ ﺤﺘﻰﺍﺬﺍ ﺑﻠﻐﻮﺍ ﺍﻠﻧﻛﺎﺡ….
“Dan ujilah anak yatim tersebut (tentang harta mereka) ketika mencapai usia menikah…( Q.S. An-NIsa`:6)”
Keutamaan memelihara anak yatim
Memelihara anak yatim merupakan perbuatan yang sangat dimuliakan dalam Islam. Rasulullah sendiri selaku suri tauladan umat manusia bahkan merupakan anak yatim bahkan sebelum beliau dilahirkan. Dengan demikian secara psikologis beliau sangat mengerti bagaimana perasaan dan permasalahan yang dihadapi oleh anak yatim. Oleh karena itu beliau sangat menganjurkan manusia untuk memelihara anak yatim di rumah mereka dan memperlakukan mereka dengan baik. Beliau bersabda:
عن أبي هريرة عن النبي صلى الله عليه وسلم “خير بيت في المسلمين بيت فيه يتيم يحسن إليه وشر بيت في المسلمين بيت فيه يتيم يساء إليه ”
Dari Abi Hurairah r.a dari Nabi SAW beliau bersabda: Sebaik-baik rumah kaum muslimin adalah rumah yang didalamnya anak yatim dipelihara dengan baik sedangkan rumah yang terburuk adalah rumah yang didalamnya anak yatim diperlakukan dengan buruk.
Di samping kemuliaan di kehidupan dunia, Rasulullah juga menjanjikan bagi orang yang menyantuni anak yatim beroleh kemuliaan di hari akhirat dengan senantiasa berada di sisinya di dalam surga Allah SWT. Kemuliaan berada di sisi beliau ini diibaratkan seperti jari tengah telunjuk yang tidak dipisahkan oleh jari manapun. Demikianlah betapa Rasulullah menganjurkan menyantuni anak yatim sebagaimana digambarkan dalam hadis beliau:
وقال أبو داود حدثنا محمد بن الصباح بن سفيان أخبرنا عبدالعزيز يعني أبن أبي حازم حدثني ابي عن سهل يعني ابن سعيد أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال “أنا وكافل اليتيم كهاتين في الجنة” وقرن بين أصبعية الوسطي والتي تلي الإبهام.
Abu Daud berkata: bercerita kepada kami Muhammad bin Shabah bin Sufyan dari Abdul Aziz, yakni Abi Hazim dari ayahnya dari Sahl bin Said bahwa Rasul SAW bersabda: Saya dan orang yang memelihara anak yatim seperti ini di dalam surga. Dan ia menunjuk jari telunjuk dan jari tengahnya.
Ancaman mengabaikan anak yatim
Orang-orang yang menyantuni anak yatim diberikan kemuliaan yang luar biasa, dan sebaliknya orang-orang yang mengabaikan hak-hak mereka justru mendapatkan ancaman dari Allah SWT. Allah memperingatkan manusia agar senantiasa menyantuni anak yatim sebagaimana firman-Nya surat al-Fajr: 17:
“كَلَّا بَل لَا تُكْرِمُونَ الْيَتِيمَ
Janganlah demikian, bahkan mereka tidak memuliakan anak yatim
Menyantuni anak yatim dalam Islam merupakan salah satu bentuk pembuktian ketaatan di dalam menganut agama Islam yang berarti tunduk dan patuh. Orang-orang yang mengabaikan anak yatim bahkan bersikap kasar dengan menghardik mereka dianggap sebagai orang yang berdusta dalam beragama. Artinya amalan apapun yang mereka lakukan di dalam agama dianggap sebagai kedustaan yang tentu saja hal ini akan menyebabkan sisa-sianya amal dan perbuatan yang dilakukan. Allah SWT berfirman:
أَرَأَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِ() فَذَلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ
Tahukah kamu orang-orang yang mendustakan agama? mereka itu adalah orang yang menghardik anak yatim…(Q.S. al-Ma`un : 1-2)
Ancaman memakan harta anak yatim
Ancaman Allah datang lebih keras bagi orang-orang yang tidak hanya mengabaikan anak yatim dan bersikap kasar kepada mereka. Bagi orang-orang yang memakan harta anak yatim dengan cara yang zhalim Allah SWT mengancam mereka dengan azab api neraka. Allah berfirman:
إِنَّ الَّذِينَ يَأْكُلُونَ أَمْوَالَ الْيَتَامَى ظُلْمًا إِنَّمَا يَأْكُلُونَ فِي بُطُونِهِمْ نَارًا وَسَيَصْلَوْنَ سَعِيرًا
Sesungguhnya orang yang memakan harta anak yatim dengan cara yang zhalim sebagaimana memakan api neraka dalam perutnya dan mereka pasti akan masuk neraka.
Cara yang terbaik dalam memelihara harta anak yatim adalah memelihara harta mereka sampai pada saat mereka telah mencapai usia yang cukup untuk mengurus harta mereka sendiri. Inilah yang dijelaskan oleh Allah SWT:
وَلَا تَقْرَبُوا مَالَ الْيَتِيمِ إِلَّا بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ حَتَّى يَبْلُغَ أَشُدَّهُ
Dan janganlah kamu dekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfa`at, hingga sampai ia dewasa.(al-An’am:152)
Bagi orang-orang yang memiliki kelebihan harta maka hendaklah mereka menjaga diri untuk menggunakan harta anak yatim yang berada dalam pengampuan mereka, sedangkan bagi orang yang fakir mereka diperbolehkan mengambil sebagian harta anak yatim dengan cara yang makruf. Cara yang makruf ini adalah sekedar yang mereka pergunakan untuk keperluan anak yatim tersebut. Di samping itu bagi orang-orang yang menghabiskan waktu mereka untuk mengurus anak yatim sehingga tidak mempunyai waktu untuk mencari nafkah guna memenuhi kebutuhan mereka sendiri diperbolehkan mengambil sebagian hak anak yatim sekedar kebutuhan mereka. Hal ini contohnya dapat berlaku bagi orang-orang yang mengurus panti asuhan anak yatim yang mendapatkan bantuan dari kaum muslimin berupa donasi dana, mereka diperbolehkan mengambil sebagian bantuan tersebut untuk biaya operasional yayasan atau panti asuhan tersebut, namun hendaklah berhati-hati dalam hal ini jangan sampai justru memanfaatkan anak yatim untuk memperoleh dana sementara mereka tidak memperoleh hasil bantuan yang diperuntukkan bagi mereka.
Sumber:http://unirab.multiply.com/reviews?&page_start=20&show_interstitial=1&u=%2Freviews

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s